Malam ini bintang-bintang bersinar terang, mendung sejenak
menghindar. Aku terpaku menatap pesawat terbang yang melaju kencang memecah
keheningan malam. Ah, mungkin seharusnya pesawat itu juga yang membawaku pergi jauh
ke kota impian. Kota dimana aku bisa menjumpai jejak-jejak peninggalan Fir’aun.
Seharusnya saat ini aku bisa bermonolog dengan sungai yang pernah menghanyutkan
bayi Musa, seharusnya setiap pagi aku bisa menatap gedung indah milik
universitas Al-Azhar, seharusnya sesekali aku bisa memegang salah satu dinding
piramida Giza. Tapi entahlah, seperti kata Shawn Mendes, sesuatu yang kuanggap
seharusnya saat ini hanyalah imagination. Tenanglah kawan, aku tak menyesal
dengan semua yang telah terjadi padaku. Tuhan tahu mana yang terbaik untuk
kujalani.
Sebelumnya, tak pernah sekalipun dalam pikiran terlintas keinginan
untuk belajar di kota Kudus ini. Kampus hijau ini bukanlah pilihan, ia tak
pernah masuk dalam list mimpiku. Hanya ada Kairo, Malang dan Jakarta. Al-Azhar
adalah cinta pertamaku, hanya ia yang terlintas ketika seorang teman bertanya
aku akan melanjutkan studi kemana. Lalu perlahan aku sadar dari mimpi Panjang
tak berujung. Sepertinya bekalku belumlah cukup, apa yang ada di otakku tak
mungkin mampu untuk menghantarkanku kesana, dan aku menyerah. Kertas formulir yang
telah kuminta dari tata usaha sekolah kuberikan pada salah seorang teman.
Agaknya ini bukanlah rute petualanganku selanjutnya.
Ketika anak-anak kelas XII sibuk mempersiapkan diri untuk mendaftar
di kampus impiannya, aku masih berkutat dengan kalimat “Post mana lagi yang
harus kutuju” . Cinta pertamaku sudah kandas, dan aku belum mendapatkan
penggantinya. Rasanya aku ingin menangis, mengabarkan pada Nil bahwa kita tak mungkin bisa bersama,
bahwa aku tak bisa memenuhi janji untuk mengapung bersamanya, merasakan apa
yang dulu Musa rasakan.
Lalu tiba-tiba, sebuah kota muncul begitu saja. Semua berawal dari
cerita perjalanan seorang teman ke Museum Angkot, ah Malang. Entah mengapa
tiba-tiba aku ingin pergi kesana. Ditambah lagi dengan kedatangan salah seorang
sejarawan terkenal di sekolahku, namanya Agus Sunyoto, salah satu sejarawan
yang berasal dari kota Malang. Semua itu menumbuhkan keinginanku untuk pergi
kesana, awalnya hanya sekedar ingin jalan-jalan. Tapi keinginan itu menguat
ketika salah seorang teman memberiku brosur kuliah bertajuk Universitas Islam
Negeri Maulana Malik Ibrahim.
Dan akhirnya UIN Maliki menjadi cinta keduaku. Entah magnet apa
yang bumi Arema berikan sehingga sulit sekali melepas tali rinduku. Setidaknya
sampai saat ini pun keinginan itu belum padam. Dulu, sebelum masuk kampus hijau
mewah milik IAIN kudus, aku pernah mendaftar ke UIN Malang lewat jalur ujian
mandiri. Semua sudah kupersiapkan, hanya tinggal menunggu tanggal tes masuknya.
Namun, entah apalagi yang menggerakkan hatiku. Aku tidak punya sanak saudara
disana, jarak antara rumahku dengan Malang juga jauh dan teman-temanku tidak
ada yang melanjutkan kuliah disana. Akhirnya dengan segala pertimbangan,
kuputuskan untuk berhenti mengejar cinta keduaku.
Aku pun harus merasakan patah hati untuk kedua kalinya. Lagi-lagi
batinku bertanya, “post mana lagi yang harus kutuju?”. Sempat terlintas dalam
benak beberapa pilihan, ada UIN Syarif Hidayatullah, Institut Ilmu Qur’an
Jakarta dan MIT (khayalan tingkat dewa). Tapi lagi-lagi hatiku berkata tidak
pada semuanya. Apakah yang aku rasakan sama sepertimu kawan?
Dan akhirnya, dengan berbagai pertimbangan aku memutuskan untuk
berhijrah ke kota Kudus. Dengan beberapa alasan yang diantaranya adalah
dekatnya jarak antara rumahku dengan kampus, banyaknya teman yang melanjutkan
kuliah disini dan terjangkaunya biaya UKT.
Kemudian kalian penasaran mengapa aku memilih jurusan bahasa Arab
bukan? Sebenarnya aku tidak pernah tertarik untuk kuliah di bidang Pendidikan,
garis besarnya aku tidak mau jadi guru. Namun, jurusan sastra Arab tidak ada
disini. Dan dengan segala bentuk keikhlasan yang sangat susah dikumpulkan,
akhirnya aku terdampar disini bersama kalian.
Dreamer
Rabu, 10 Apr. 19 pukul 23.45
Di Pondok
Komentar
Posting Komentar