POPO

Kasur adalah tempat ternyaman setelah bahu kekasih. Namun sudah tidak lagi. Setelah pandemi korona atau apalah istilahnya, kasur menjadi tempat yang membosankan karena dosis rebahan yang berlebihan. Popo merindukan bahu sang kekasih untuk dijadikan sandaran, tapi apa mau dikata, ia jomlo sejak lahir dua puluh tahun yang lalu. Iapun mulai bosan dengan suara merdu ibunya yang sering tausyiah karena sedari pagi sampai pagi dirinya tak beranjak dari ruangan kotak bernam

 “mbok yo, dolan kono ning omahe dulur-dulurmu Po, ndekem ae ning kamar po ora bosen.”[1]

 “Mak jaluk duwet, aku ape tuku mercon.”[2]

“Ndek mau wes tak wei limang ewu, iku kanggo sedino Sur, Pak’anmu lagi ora nduwe duwet, jagunge ora payu goro-goro korona.”[3]

Syukurlah, Surya adik Popo menarik perhatian emak, setidaknya dengan ini telinganya selamat. Popo benar-benar butuh sesuatu yang baru sekarang. Sesuatu yang bisa menyelamatkan jiwanya dari rasa bosan dan frustasi, dan juga melahirkan imajinasi, inspirasi. Dengan ini ia berharap otaknya kembali bekerja maksimal untuk mengarang cerita atau setidaknya menciptakan satu buah puisi. Ahh, siapa bilang bekerja mengandalkan otak lebih enak dibanding kerja mengandalkan otot. Masing-masing ada tantangan dan resikonya. Dan sebagai seorang penulis lepas dia harus selalu menjaga kesehatan pikirannya.

Matanya hampir terpejam saat tak satupun ide brilian melintas. Popo pasrah jika bulan ini namanya tak tercantum indah di koran, sudahlah mungkin bukan rejekinya.

 “Popo..”

 “Opo mak? aku ngantuk, lagi ae ape turu.”[4]

“Emak mau bar belonjo, jare de Supiah ngko bengi ape ono horo-horo, nek ndungu suworo banter soko langit dikon nutup kuping, terus sesok kiamat, bumi tabra’an karo meteor, jal delokno ning pesbukmu, emak pengen ngeti.”[5]

“Duh mak mak, ojo percoyo karo de Supiah tukang nyebar hoax, percoyo karo gusti Allah.”

“Yowis nek moh ndelokno, ning lemari ono ati pitik, ndang dipangan ben rak mambu, nek mangan ning kamar wae, Surya angger poso kemeceran.”[6]

“hm”

Selain bekerja sebagai penulis lepas, Popo juga merupakan seorang mahasiswi semester akhir di jurusan pendidikan bahasa Arab. Entah, ia bahkan tak berminat menjadi guru bahasa Arab. Universitas menempatkannya di jurusan itu, dan ia pasrah. Masa depannya hanya berkutat pada hal ihwal tulis menulis.

“Pakmu iku lho Po, ngimami teraweh kok lali rokaate bolak balik, mbok nek awan turu ben bengi ora ngantuk.”[7]

“Mbak Po esok awan sore turu terus mak, tapi bengi yo ijeh ngantuk,”[8] kali ini Surya yang menyahut.

Popo acuh saja, masuk kamar, membuka tombol on pada laptop, lalu cengo. Ide lagi-lagi belum melintas di pikirannya. Sudah banyak buku yang ia baca, tapi tak satupun memberikan inspirasi. Atau keluarganya saja ia jadikan cerita, bapak yang pendiam, ibu yang cerewet, adik yang menyebalkan dan dirinya yang anggun bak Cinderella. Tapi lagi-lagi tak ada gairah menulis, benar kata ibunya bahwa ia harus jalan-jalan setidaknya keluar dari kamar.

“De Supiah cerito, Jare pak Gubernur tape iso ngobati korona, he’e no Po? Nek iyo pak’anmu tak kon nandur telo, nowone pemerentah kurangen bahan nggo nggawe tape.”[9]

 “Ndek wingi dak tak kandani nek gausah percoyo karo de Supiah mak.” [10]

 “Hambuh Po, nawane bener.”

Supiah adalah nama kakak kandung ibunya Po. Ia seorang penjual sayur yang terkenal di desa. Setiap hari ia pergi ke pasar, tempat ia mendapatkan bahan jualan sekaligus bahan cerita mulut ke mulut yang keabsahannya mengalami erosi. Po tidak akrab dengannya karena selama ini dia tinggal di kota besar tempatnya belajar.

Tak kunjung mendapatkan inspirasi setelah keluarnya ia dari kamar, Po memutuskan untuk keliling desa menggunakan motor buntut bapaknya. Melihat-lihat desa tempatnya dilahirkan yang ternyata mengalami banyak perubahan. Bangunan rumah bata merah yang dulunya lapangan bola, sungai yang lebar dan airnya jernih kini menyempit disertai banyaknya tumpukan sampah, dan bayi-bayi tetangga yang sekarang berubah wujud menjadi anak-anak kecil berlarian. Po tersenyum, akhirnya ia mendapatkan ide untuk tulisannya.

 “Popo...” seseorang berlari dari kejauhan mengejarnya, ah de Supiah.

“Wonten nopo de?”[11]

 “Makmu, pakmu karo adikmu wes raono, kelindes trek gede ning dalan ngarep kecamatan.”[12]

“Inna lillahi, saiki teng pundi de?”[13] Wajah panik seketika menyelimuti Po.

“Ijeh ning rumah sakit, ayook”

Dengan kecepatan penuh Po membawa motornya bersama dengan de Supiah menuju rumah sakit, Po tahu de Supiah tak mungkin asal bicara seperti yang selama ini dilakukannya dan kabar inipun bukan produksi pasar. sesering apapun manusia menyebarkan kabar dusta, kabar musibah orang terdekat harus dipastikan kebenarannya, Po tahu teori itu.

Dan benar, seluruh anggota keluarganya terbujur kaku dengan banyaknya luka di sekujur tubuh. Tubuh Po meluruh ke lantai tak mampu berkata-kata. Air mata membajiri pipi. Ya Tuhan, dua jam yang lalu ibunya masih bertausyiah, bapaknya duduk di teras rumah, dan adiknya, baru saja ia memarahi sang adik karena menghilangkan salah satu koleksi bukunya. Kini semua telah pergi, meninggalkannya sendirian. Sebatang kara tanpa saudara.

“Sabar Po, wes nangis lah, gapopo, ojo ngeroso dewean, de Supiah karo dademu seng liane iku dulurmu.”[14] Po terus saja menangis tak menghiraukan de Supiah yang berusaha menghiburnya. Ia sadar, hal terdekat dengan manusia adalah kematian, tapi mengapa harus sekarang? Di saat ia belum berbuat hal-hal yang membuat keluarganya bangga. Bahkan akhir-akhir ini ia merasa bosan di rumah, dia rindu teman-temannya, tapi lagi-lagi makna bosan ternyata tidak lebih dari kurangnya rasa syukur. Harusnya dia bersyukur bisa berkumpul dengan keluarganya, saudaranya. Harusnya dia menyenangkan hati sang ibu dengan mendengarkan cerita-ceritanya, harusnya dia membantu bapak bekerja di sawah, dan harusnya...

“Wes Po, ikhlasno, dongakno keluargamu ben tenang yo, gak usah ngeroso dewekan, aku iki dulurmu...”[15] Lagi-lagi de Supiah berusaha menenangkannya.

 


 

           by: Oenisa


[1] Mbok ya main ke rumah saudara-saudaramu sana Po, di kamar terus apa tidak bosan.

[2] Mak minta uang, aku mau beli petasan.

[3] Tadi sudah kukasih lima ribu, itu buat sehari Sur, bapakmu sedang tidak punya uang, Jagungnya tidak laku gara-gara korona.

[4] Apa mak, aku ngantuk, baru saja mau tidur.

[5] Emak tadi habis belanja, de Supiah bilang nanti malam akan ada huru-hara, kalo dengan suara keras dari langit disuruh nutup telinga, terus besok kiamat, bumi tabrakan sama meteor, coba lihat fesbukmu, emak ingin lihat.

[6] Yasudah kalau tidak mau, di lemari ada hati ayam, cepat dimakan biar tidak basi, makannya di kamar saja, Surya kalo puasa suka kepengenan.

[7] Bapakmu itu lho Po, jadi imam teraweh kok lupa rokaat terus, mbok ya kalau siang tidur biar malamnya tidak ngantuk.

[8] Mbak Po pagi siang sore tidur terus mak, tapi malamnya tetap ngantuk.

[9] De Supiah cerita, kata pak gubernur tape bisa mengobati korona, benar Po? Kalau iya bapakmu tak suruh menanam ketela, mungkin saja pemerintah kekurangan bahan buat bikin tape.

[10] Kemaren udah tak bilangin untuk jangan percaya sama de Supiah mak.

[11] Ada apa de?

[12] Emakmu, bapakmu sama adikmu sudah tiada, terlindas truk besar di jalan depan kecamatan.

[13] Sekarang di mana de?

[14] Sabar Po. Menangislah, tak apa-apa. Jangan merasa sendirian. De Supiah sama dademu yang lain itu saudaramu.

[15] Sudah Po, ikhlaskan, doakan keluargamu biar tenang ya, jangan merasa sendirian, aku ini saudaramu.

Komentar