1. Bilingualisme
Secara sosiolinguistik, secara umum, bilingualisme diartikan sebagai penggunaan dua bahasa oleh seorang penutur dalam pergaulannya dengan orang lain secara bergantian. Untuk dapat menggunakan dua bahasa, seseorang harus menguasai dua bahasa tersebut. Pertama bahasa ibu, dan kedua bahasa keduanya. Kemampuan menggunakan dua bahasa disebut bilingualitas.
Lalu, sejauh mana taraf kemampuan seseorang akan B2 sehingga ia dapat disebut sebagai seorang yang bilingual? Bloomfield dalam bukunya yang terkenal Language mengatakan, bilingualisme adalah “kemampuan seorang penutur untuk menggunakan dua bahasa dengan sama baiknya”, jadi menurut Bloomfield seseorang disebut bilingual apabila dapat menggunakan BI dan B2 nya dengan sama baiknya. Bbatasan Bloomfield mengenai bilingualisme ini banyak dimodifikasi orang, Robert Lando misalnya, mengatakan bahwa bilingualisme adalah “kemampuan menggunakan bahasa oleh seseorang dengan sama baik atau hampir sama baiknya, yang secara teknis mengacu pada pengetahuan dua buah bahasa bagaimana pun tingkatnya”.
Seorang bilingual yang dapat menggunakan B2 sama baiknya dengan BI, oleh Halliday disebut ambilingual, Oleh Oksaar disebut ekuilingual, dan oleh Diebold disebut koordinat bilingual.
Lalu, apakah yang dimaksud dengan bahasa dalam bilingualisme. Apakah bahasa sama dengan langue atau bagaimana? Bloomfield mengatakan bahwa menguasai dua buah bahasa, berarti menguasai dua buah sistem kode, maka berarti bahasa itu bukan langue, melainkan parole, yang berupa berbagai dialeg dan ragam. Seorang pakar lain, Mackey, mengatakan dengan tegas bahwa bilingualisme adalah praktik penggunaan bahasa secara bergantian, dari bahasa yang satu ke bahasa yang lain oleh seorang penutur.
Kapan seorang penutur bilingual menggunakan kedua bahasa yang dikuasainya secara bergantian? Kapan harus menggunakan BI, B2, dan kapan bebas untuk menggunakan BI atau B2 nya? BI kapan digunakan dan B2 kapan harus dipakai, pertanyaan ini menyangkut pokok sosiolinguistik, “siapa berbicara, dengan bahasa apa, kepada siapa, kapan, dan dengan tujuan apa”. BI digunakan dengan para anggota masyarakat tutur yang sama bahasanya dengan penutur. Namun hal tersebut tidak berlaku di sekolah, karena guru dan murid harus menggunakan bahasa indonesia (B2) yang berkedudukan sebagai bahasa kenegaraan. Lalu kapan bebas untuk menggunakan BI atau B2 nya? Pertanyaan ini sulit dijawab, karena dalam situasi sosial pembicaraan, penggunaan BI dan B2 tidaklah bebas.
2. Diglosia
Ferguson menggunakan istilah diglosia untuk menyatakan keadaan suatu masyarakat di mana terdapat dua variasi dari satu bahasa yang hidup berdampingan dan masing-masing mempunyai peranan tertentu.
Fungsi merupakan kriteria diglosia yang sangat penting. Menurut Ferguson dalam masyarakat diglosis terdapat dua variasi dari satu bahasa, variasi pertama disebut dialeg tinggi, yang kedua dialeg rendah. Dalam bahasa Arab, dialeg tinnggi disebut bahasa Arab klasik, bahasa Al-Qur’an yang lazim disebut al-fusha, sedangkan dialeg rendah lazim disebut addarij. Distribusi fungsional dialeg T mempunyai arti bahwa terdapat situasi di mana hanya dialeg T yang sesuai untuk digunakan, dan dalam situasi lain hanya dialeg R yang bisa digunakan. Ragam T diperoleh dengan mempelajarinya dalam pendidikan formal, sedangkan ragam R diperoleh dari pergaulan dengan keluarga dan teman-teman sepergaulan. Oleh karena itu, mereka yang tidak pernah memasuki dunia pendidikan formal tidak akan mengenal ragam T sama sekali.
Konsep Ferguson mengenai diglosia, bahwa di dalam masyarakat diglosis ada perbedaan ragam bahasa T dan R dengan fungsinya masing-masing dimodifikasi dan diperluas oleh Fishman. Menurut Fishman diglosisa tidak hanya berlaku pada adanya perbedaan ragam T dan R pada bahasa yang sama, melainkan juga berlaku pada bahasa yang sama sekali tidak serumpun, atau pada dua bahasa yang berlainan.
3. Kaitan Bilingualisme dan Diglosia
1) Bilingualisme dan diglosia
Di dalam masyarakat yang dikarakterisasikan sebagai masyarakat yang bilingualisme dan diglosia, hampir setiap orang mengetahui ragam bahasa T dan ragam bahasa R. Kedua ragam digunakan menurut fungsinya masing-masing. Yang tidak dapat dipertukarkan.
2) Bilingualisme tanpa diglosia
Di dalam masyarakat yang bilingualis tetapi tidak diglosis terdapat sejumlah individu yang bilingual, namun mereka tidak membatasi penggunaan satu bahasa untuk satu situasi dan bahasa yang lain untuk situasi yang lain. Jadi, meraka dapt menggunakan bahasa untuk situasi dan tujuan apapun.
3) Diglosia tanpa bilingualisme
Di dalam masyarakat yang berciri diglosia tetapi tanpa bilingualisme terdapat dua kelompok penutur. Kelompok pertama biasanya lebih kecil, merupakan kelompok ruling group yang hanya bicara dalam bahasa T, sedangkan kelompok kedua, yang biasanya lebih besar, tidak memiliki kekuasaan dalam masyarakat, hanya berbicara bahasa R.
4) Tidak diglosia dan tidak bilingualisme
Di dalam masyarakat yang tidak diglosia dan tidak bilingual tentunya hanya ada satu bahasa dan tanpa variasi serta dapat digunakan untuk segala macam tujuan. Keadaan ini hanya mungkin ada dalam masyarakat yang primitif atau terpencil yang dewasa ini tentunya sangat sukar ditemukan.
Komentar
Posting Komentar